Tampilkan postingan dengan label Film Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

(Review Short Film) "Iblis Jalanan" : Menggila Pada Tempatnya


Sekelompok pembalap liar yang sering menggunakan jalan umum ibukota sebagai lintasan balapnya jelas bagaikan iblis yang mengusik pengendara lain dalam berlalulintas. Jalanan dirasa milik mereka sendiri dan dijadikan arena balap motor yang tak hanya uang yang jadi bahan taruhannya, namun juga nyawa mereka sendiri bahkan nyawa pengendara umum yang sedang melintas ikut terancam. Ada yang bangga menjadi pembalap liar karena dianggap punya nyali yang besar. Walau sering dilakukan razia oleh polisi, namun keberadaan para “iblis jalanan” ini sulit untuk dibasmi. Melihat fenomena inilah, film dokumenter pendek berjudul Iblis Jalanan seakan memberikan solusi bagi mereka yang memang bangga punya nyali besar dengan “kuda besinya” untuk meluapkan nyali besarnya dengan menggila pada tempatnya di arena tong setan.

Iblis Jalanan merupakan film dokumenter pendek yang terinspirasi dari lagu berjudul Iblis Jalanan milik Bangkutaman. Film ini berkisah tentang kehidupan serta sisi lain dari para pembalap tong setan di sebuah pasar malam. Adalah Eko dan Abdul, dua rider tong setan yang tak hanya pamer kebolehan dalam atraksi penuh resiko namun juga membagi cerita dibalik penampilan mereka serta pengalaman mereka selama berkecimpung di dunia per-tong setan-an dan lika-liku pasa malam keliling. Selama 10 menit durasi film, Penonton akan diajak menyelami kehidupan dan keseharian Eko dan Abdul di arena tong setan pasar malam lengkap dengan penampilan gila-gilaan mereka serta segala keluh kesah mereka mulai dari beberapa cedera yang mereka pernah alami sebagai resiko pekerjaan hingga kisah kasih dengan tambatan hati mereka di pasar malam.

Iblis Jalanan merupakan karya dari Gundala Pictures yang disutradarai oleh Salman Farizi. Film dokumenter pendek ini awalnya merupakan project videoclip dari single Bangkutaman yang rilis tahun 2014, namun sepertinya para sineas dibalik Iblis Jalanan melihat potensi dan kisah yang sangat menarik untuk diangkat ke permukaan dari kehidupan para rider tong setan, sehingga jadilah  Iblis Jalanan dalam sajian sebuah film pendek dokumenter.  Dalam 10 menit, Iblis Jalanan mampu menangkap momen-momen menegangkan serta berbahaya dari atraksi para pengendara motor di arena tong setan. Duet DOP, Sesaria Saputra dan Dana Putra mampu meng-capture ketegangan dari uji nyali dalam tong raksasa yang dilakukan oleh Eko dan Abdul. Beberapa adegan serta shot yang dibidik dari kamera mereka dapat dikatakan variatif dimana menggabungkan beberapa tehnik pengambilan gambar, diantaranya sudut pandang pengendara dimana menggunakan kamera Go-Pro yang ditempel di motor Eko dan Abdul serta angle yang diambil dari dasar tong setan yang memperlihatkan dua rider tersebut berputar-putar mengelilingi tong setan dengan kecepatan tinggi. Dua kameramen itupun ikut adu nyali berada ditengah-tengah arena tong setan karena tak dipungkiri resiko mereka demi mendapat gambar yang baik cukup besar.


Footage-footage yang berhasil ditangkap dalam proses pengambilan gambar Iblis Jalanan mampu dijahit melalui proses editing yang menarik dimana pace-nya terasa cepat namun tetap intense sehingga tetap setia dengan apa yang ingin diceritakan. Editing Iblis Jalanan terasa pop dan  transisi serta komposisi antara footage atraksi, wawancara dengan pembalap, serta suasana eksternal (penonton dan pasar malam) terasa pas dan seimbang. Hasilnya menonton Iblis Jalanan terasa sangat renyah, nikmat, dan ringan namun pesan yang ingin disampaikan tetap tersalurkan. Durasi jadi tak begitu terasa saking menikmatinya. Bisa dikatakan, Iblis Jalanan punya pencapaian tehnik yang baik yang tentu saja sangat menunjang cerita dan apa yang ingin disampaikan ke penonton.

Secara sangat jelas bahkan disertakan dalam premisnya bahwa film Iblis Jalanan ini terinspirasi oleh lagu Iblis Jalanan milik Bangkutaman, sudah tentu lagu ini pun turut memperkuat atmosfer ketegangan saat Eko dan Abdul  bersama motor mereka melakukan atraksi di arena tong setan. Beberapa momen dalam film ini punya power lebih ketika diiringi oleh lagu Bangkutaman ini. Namun, lirik dari lagu Iblis Jalanan kurang begitu terdengar dan sudah jelas tak begitu memberikan pengaruh dalam film rasanya. Padahal bisa dipastikan bila liriknya lebih mudah didengar oleh penonton bisa menjadi kekuatan dan nyawa lebih dalam filmnya. Hingga akhirnya, apabila lagu Iblis Jalanan diganti dengan lagu lainpun yang bergenre sejenis akan terasa sama saja hasilnya. Disinilah terlihat bagaimana film arahan Salman Farizi ini tetap setia dan konsisten terhadap konsep awal filmnya yang terinspirasi dari lagu milik Bangkutaman.

Film dokumenter pendek Iblis Jalanan  punya tujuan yang sama dengan lagunya sama-sama menyinggung para pengguna jalan yang bertindak semaunya namun dengan cara dan eksekusi yang berbeda. Bila lagunya secara terang benderang menyinggung pengguna jalan yang suka kebut-kebutan, bila filmnya seakan memberi solusi bila ingin unjuk nyali dengan cara yang lebih positif, tepat pada tempatnya, dan tentu saja mendapat uang. Filmnya tidak menyinggung tentang perilaku para “Iblis Jalanan”, namun memberikan sosok “Iblis” baru namun lebih tahu aturan dan tahu tempat yang digambarkan dengan sosok Eko dan Abdul. Bila ingin uji nyali besar daripada balapan liar di jalan yang jelas merugikan orang lain, lebih baik tes nyali di arena tong setan, kurang lebih itulah yang ingin disampaikan pada film ini selain menunjukkan sisi lain dari para pembalap tong setan beserta lika liku per-pasar malam-an.

Dengan segala yang disajikan Iblis Jalanan, sangat pantas bila film dokumenter pendek ini terpilih sebagai pemenang Special Mention Juri film dokumenter di perhelatan XXI Short Film Festival 2015 dan baru saja menjadi jawara film pendek terbaik di Europe on Screen 2015 mengalahkan kandidat lain salah  satunya Lemantun  karya Wregas Bhanuteja. Dengan segala pencapaian yang didapat oleh film dokumenter pendek Iblis Jalanan, Bangkutaman haruslah bangga dengan apa yang dilakukan oleh Salman dkk dalam mentransformasikan project videoclip  mereka kedalam format film dokumenter pendek yang punya kisah serta tehnik penggarapan yang baik. Sepertinya tak hanya yang sering ugal-ugalan di jalan yang harus nonton film ini, para penggemar film khususnya film pendek wajib nonton film ini. 

Jumat, 08 Mei 2015

(Review Short Film) How To Make A Perfect X’Mas Eve : A Perfect Traumatic To Make a Perfect X’Mas Eve





Dengan judul yang mengandung kalimat A Perfect X’mas Eve, How To Make A Perfect X’Mas Eve (HTMAPXE) jauh dari bayangan malam Natal sempurna yang ada dibenak penonton. Film ini tidak menggambarkan sebuah perayaan malam Natal selayaknya manusia normal yang penuh cinta kasih dan aroma kekeluargaan yang hangat.  Namun disitulah menariknya, HTMAPXE layaknya sebuah tutorial bagaimana membuat malam Natal yang tidak biasa dan lebih “berkesan”. Sebuah malam Natal sempurna dengan perspektif berbeda dari single lady bernama Gella Kuncoro.

HTMAPXE berkisah tentang Gella Kuncoro (Aimee Saras), perempuan muda yang membuat sebuah video tutorial tentang cara membuat malam Natal yang sempurna (dan beda dari biasanya tentu saja). Diawali dengan sosok Gella yang penuh semangat bersiap untuk memaparkan step demi step cara menghidangkan santapan malam Natal didepan kamera dan kemudian adeganpun berpindah dimana Gella merayakan malam Natal “romantis” berdua dengan seorang pria. Siapa sangka, dibalik penampilan manis berbalut dengan dress merah yang membuatnya terlihat anggun nan ayu, Gella memberikan kejutan istimewa untuk sang pria berupa adegan ranjang ala bondage yang tentu saja panas. Sudah dipastikan, ini menjadi malam Natal yang sempurna bagi Gella dan tentu saja tak terlupakan serta penuh surprise bagi si pria “beruntung” tersebut. Saat adegan demi adegan dimana Gella dan pria-nya berinteraksi, memori-memori kelam Gella saat perayaan malam Natal dengan keluarganya di masa kecil pun muncul dan memberikan sebuah trauma psikologis bagi Gella yang mana pengalaman pahit ini sangat berkontribusi membentuk karakter Gella seperti sekarang dan arah pandangnya untuk menikmati malam Natal.

Menurut plot dan latar pengisahannya, ada tiga plot cerita yang membangun HTMAPXE. Pertama, kisah cinta satu malam antara Gella dan pria bule beserta adengan ranjangnya. Kedua, masa kecil Gella yang kelam saat malam Natal bersama keluarganya dimana perlakuan KDRT ayah Gella yang keras terhadap istrinya dan apa yang terjadi malam tersebut memberikan trauma tersendiri dan mengubah arah pandang Gella terhadap malam Natal dan lelaki. Plot pertama dan kedua disuguhkan secara cut to cut bergantian, seakan bertabrakan namun di-blend dengan rapih dan mudah dinikmati. Dan hasil dari plot pertama dan kedua sukses membangun plot ketiga yang berupa tutorial memasak dengan sangat baik walau agak distrubing. Tanpa kontruksi menarik dari plot pertama dan kedua, plot tutorial ini akan terasa biasa saja. Dampak nyata dari gabungan baik plot pertama dan kedua adalah plot ketiga dalam film ini menjadi klimaks yang pas dan elegan serta punya rasa lebih yang akan membuat penonton terganggu (In a good way) karena latar kisahnya. Dan yang menarik adalah bagaimana ketiga plot yang ada di HTMAPXE disuguhkan dalam durasi 11 menit. Sebuah film yang efektif, padat, dan tahu bagaimana durasi yang singkat dapat dimanfaatkan dengan baik.

Monica Vanesa Tedja, sutradara dari HTMAPXE tahu betul bagaimana bermain-main dengan malam Natal dan menuangkannya dalam bentuk visual. Beberapa orang pasti masih teringat dengan adegan makan malam keluarga saat malam Natal di film Pintu Terlarang. Dengan tema yang sama, HTMAPXE memberikan kisah yang berbeda namun rasa yang sama, ngeri dan nyeri. HTMAPXE adalah film thriller yang mampu memanfaatkan atmosfer dan kekuatan naskah dengan baik. Walau tak ada adegan slasher berdarah-darah yang terlihat dengan frontal (namun ada adegan anggota tubuh yang dipotong dan diperlihatkan secara gamblang), HTMAPXE punya atmosfer yang mampu membuat penonton tetap merasakan kengerian. Penggunaan musik latar yang membuat aroma-aroma thriller semakin terasa dan mencekam. Sebagai contoh adegan awal yang secara visual terlihat seorang gadis cantik bergaya depan kamera membuka sebuah tutorial namun dengan iringan musik yang terdengar thriller sekali membuat penonton bergumam, “pasti ada yang ga beres abis ini!”. Penggunaan lagu-lagu khas Natal pun dalam film ini dimanfaatkan dengan baik sebagai pendukung atmosfer dalam film ini. Terutama gubahan lagu Natal saat credit title bergulir, lagu Natal yang populer pun jadi sekelam Glommy Sunday.

Selain disokong dengan skenario yang baik, HTMAPXE juga terfasilitasi dengan teknis yang baik pula. Dari sisi sinematografi, kerja keras sang DOP, Hizkia Christian mampu menghasilkan gambar-gambar cantik dalam HTMAPXE. Beberapa adegan memang diambil dengan pergerakan kamera yang statis seakan hasil rekaman dari karakter Gella. Namun, gambar yang dihasilkan memiliki komposisi yang cantik dan mampu mewakili keseluruhan adegan sehingga tidak ada gambar yang miss atau atau sekedar footage seadanya. Hasil eksplorasi berupa shot dan angle dari sang DOP bisa dikatakan sukses dan membuat film ini terasa unggul dari segi teknis. Bidikan kamera yang dihasilkan pun terasa lezat, selezat masakan Gella (Bagi teman setipenya tentu saja). Editing dari Gamaliel Tapiheru pun bekerja dengan baik terutama pada paruh pertama film. Sang editor mampu mencampurkan adengan masa lalu dan masa kini dengan baik dan tidak terasa memusingkan walau dengan pace yang cenderung cepat. Yang membedakan scene masa lalu dan masa kini Gella adalah penggunaan tone warna. Pada masa kini warnanya tegas dan pada masa lalu warnanya agak senja. Tak ada tumpang tindih antara dua scene berbeda waktu tersebut walau kesannya saling bertabrakan.

Dan ada yang salah bila tak membahas penampilan sang primadona dalam film ini, Gella Kuncoro yang diperankan oleh Aimee Saras. Dalam ajang XXI Short Film Festival 2013, selain HTMAPXE ada satu film lain yang pemeran utamanya Aimee Saras yaitu Merindu Mantan karya Andri Cung dan Aimee Saras sama-sama tampil bagus dikedua film tersebut. Perempuan yang memiliki suara merdu kala menyanyikan lagu It’s Was June ini apabila dalam Merindu Mantan memerankan sosok wanita galau nan kelabu yang dirudung sedih , di HTMAPXE tampil sebagai wanita yang aktif, talkactive, dan gahar dibalik sikapnya yang anggun didepan pria incarannya. Kesamaan dua karakter Aimee Saras di film HTMAPXE dan Merindu Mantan adalah sama-sama korban disakiti hatinya oleh pria dan menggunakan cara tak wajar dalam pelampiasannya. Dalam merindu mantan sosok Aimee Saras merupakan korban sakit hati dari playboy kampung, di HTMAPXE wanita cantik ini korban dari KDRT yang dilakukan oleh ayahnya. Kesimpulannya adalah jangan pernah menyakiti hati perempuan, apalagi Aimee Saras. Aimee Saras mampu memerankan sosok Gella yang seperti sangat menikmati hidup dan friendly di balik sosok mengerikan yang ada didalam dirinya. Puncak performanya bukan saat adegan ranjang, melainkan saat adegan tutorial diparuh terakhir. Mampu menyelaraskan gesture tubuh dan akting menawan dengan intonasi suara yang jelas dan tegas serat dibumbui dark comedy sebagai bumbu adegan tutorial dengan bahan-bahan hasil buruan sendiri ini. Hasilnya, sebuah tontonan campur –aduk dimana penonton sebenarnya dibuat ngilu namun tidak lupa untuk terhibur. HTMAPXE semakin membuktikan bahwa Aimee Saras punya kualitas acting yang baik bahkan cenderung diatas rata-rata.

Dapat disimpulkan bahwa HTMAPXE adalah sebuah film pendek thriller yang mampu menyuguhkan keseluruhan cerita dengan efektif dan tepat sasaran. Didukung dengan naskah yang baik,kepiawaian dari  segi penyutradaraan, dan segi teknis seperti sinematografi, editing, hingga art department yang bekerja dengan maksimal membuat HTMAPXE terasa lezat selezat masakan yang dinikmati oleh Gella da kawan-kawannya di malam Natal sempurnanya. Tak berlebihan bila HTMAPXE terpilih menjadi film pendek terpilih versi IDFC (Indonesian Film Director Club) pada ajang XXI Short Film Festival 2013.




Catatan : Perlu diingat, jangan lukai perasaan Aimee Saras…

Senin, 20 April 2015

(Review Short Film) Barbie : Like Mother Like Daughter


Sejak awal film pendek “Barbie” bergulir, penonton akan disuguhkan dengan penampilan seorang gadis kecil kira-kira masih duduk di bangku kelas 1 SD bersama dua orang teman sebayanya dimana mereka berdandan ala perempuan socialita ibukota. Selebihnya penonton akan menyaksikan bagaimana pola tingkah ketika gadis belia tersebut berlaku layaknya sudah dewasa mulai dari cara berpakaian, make-up, cara dan kosakata berbicara hingga melakukan hal-hal “hebring” khas ibu-ibu muda gaul seperti makan cocktail, pamer baju mewahnya hingga tentu saja gosip dengan teman sejawatnya. Melalui ketiga pola tingkah “bocah tua” inilah ada pesan yang ingin disampaikan “Barbie” kepada penontonnya.

Selama 8 menit durasi film “Barbie”, jujur saya merasa film ini “annoying”. Merasa terganggu disini bukan karena kualitas film, segi teknis, akting atau apalah namun lebih kepada kenyataan yang dipaparkan dalam “Barbie”.Penonton disuguhkan penampilan gadis belia dengan cara berpakaian, cara bicara, hingga perilaku yang belum pantas mengingat umur mereka yang masih amat sangat muda. Hal ini terjadi karena si anak mulai mencontohkan apa yang dilakukan oleh orangtua mereka dan menjadikannya sebagai pedoman atau bahkan pencapaian hidup.  “Barbie” memperlihatkan bagaimana anak-anak akan menjadi korban dari gaya hidup (atau pilihan jalan hidup)orangtuanya. Ada pepatah terkenal “Like father like son” atau pada film ini bisa disesuaikan dengan “Like mother like daughter”. Pepatah tersebut pas untuk mendeskripsikan apa yang coba diangkat oleh “Barbie”, perilaku orang tua yang secara tidak langsung mengilhami anaknya yang masih lugu dan menumbuhkan obsesi untuk mengikuti jejak langkah orangtuanya. Kalau itu hal yang baik tentu sangat baik untuk anak kedepannya, namun bila hal ini hal yang buruk?. “Barbie” coba mengkritisi bagaimana pendidikan moral berawal dari lingkungan keluarga dan setiap orangtua harus sadar betul apa yang mereka lakukan demi menjaga perkembangan moral anak kejalur yang benar.
Saya kira bukan hanya saya yang merasa “terganggu” akan visualisasi penampilan karakter anak-anak dalam “Barbie”. Penampilan menor dengan make-up serta berpakaian yang cenderung “sexy” dan cara bicara yang belum pantas diutarakan anak seusianya cukup membuat saya mengelus dada. Walau tidak ditonjolkan dengan vulgar namun “Barbie” coba menyindir bagaimana orangtua modern ini memakaikan anak-anak mereka pakaian-pakaian yang sebenernya tidak terlalu pantas untuk anak seumuran mereka. Bagaimana kalian melihat anak-anak kecil dengan pakaian-pakaian layaknya yang ditampilkan dalam “Barbie” ? melihatnya wajar karena terlihat lucu atau miris?. Ada makna tersirat yang penonton dapat sebagai orang tua agar lebih bijak lagi terhadap apa-apa yang berurusan dengan anak mereka agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan kedepannya.

Rembulan Sekarjati, sutradara yang menyutradarai film “Barbie” mampu memvisualisasikan kehidupan kaum sosialita yang dibawakan oleh anak-anak dengan penuh warna layaknya menonton film kartun Barbie. Didukung dengan skenario yang kuat serta dialog yang mengalir dan khas dengan gaya hidup kaum ibu-ibu sosialita membuat “Barbie” begitu renyah dinikmati. Plot yang disuguhkan pun menarik dan mampu mengecoh penonton dengan twist dipertengahan film. Dengan durasi yang terhitung pendek, “Barbie” mampu dengan efektif menyampaikan pesan yang terkandung dalam filmnya. Cerita yang menarik ini didukung dengan tata sinematografi yang cantik dari Sesarina Puspita. Sesarina mampu mengcapture segala bentuk keglamoran dan hedonitas yang ingin ditunjukkan dalam “Barbie” dengan ciamik dengan tatanan warna-warna mencolok seperti yang ditemui dalam film-film Barbie.

Film “Barbie” tak lepas dari penampilan menawan dari tiga anak perempuan yang tampil sebagai tokoh utama dalam film ini. Mereka sukses memerankan tokoh yang perilakunya jauh diatas umur mereka. Celotehannya, gaya bicara, hingga gesture tubuh menyerupai ibu-ibu muda sosialita yang sedang asik dengan teman sejawatnya. Didukung dengan make-up dan property yang ada semakin memperkuat karakter yang sedang dibawakan. Walau ada beberapa bagian dimana mereka terlihat kaku dan ada dialog yang terasa dipaksakan dan diulang-ulang sepeti “wahh.. bagus banget” tapi semua itu tertutupi dengan penampilan baik mereka. Credit lebih diberikan kepada production design dalam film “Barbie” terutama tim artistik dan make-up. Tim artistik mampu menghidupkan setting yang glamour khas ibu-ibu sosialita seperti saat cocktail party, atau deretan barang mewah dan parfume sehingga menghidupkan suasana dan mendukung cerita yang disajikan. Make-up dalam film ini juga bisa dibilang total dilihat dari apa yang telah mereka lakukan terhadap karakter ketiga anak kecil tersebut. Karakter Gladys dkk yang masih bocah disulap layaknya kaum hedon berumur 20tahunan. Make-up yang juara didukung denga pemilihan dress yang sesuai dan semakin memperkuat karakter dalam film “Barbie”. Mungkin karena sutradaranya perempuan jadi punya taste yang tepat dalam penggarapan film yang visualisasinya perempuan banget ini.


Overall, “Barbie” menyuguhkan tontonan yang menarik sarat dengan sindirian dalam kehidupan modern. Menyinggung tentang sosialita dan hedonitas yang menjangkit para orangtua dimana mungkin saja anak-anak mereka ikut mencontoh bahkan mengganggap itu sebagai panutan. “Barbie” menampar realita yang ada agar para orang tua lebih bijak dalam berperilaku.


Rabu, 15 April 2015

(Review Short Film) Merindu Mantan : The Scariest Effect of Broken Heart





Apabila mendengar kata “merindu mantan” sontak yang terlintas adalah kegalauan yang sekarang seakan menjadi “musim” dikalangan remaja. Perasaan dimana hati terasa perih dan tentu saja menyakitkan ini di ekspresikan secara beragam dan yang lagi hits saat ini adalah dalam bentuk meme. Banyak sekali meme-meme lucu yang mengangkat isu tentang kegalauan atas mantan kekasih seakan tak ada habisnya bahan untuk mengeksploitasi kegalauan akan mantan. Hasilnya selalu menghibur dan ada saja hal yang baru dan lucu muncul seakan menyindir dengan cara yang menghibur pembacanya dan terasa dekat dengan yang pernah dialami. Dan bila berpikiran bahwa film pendek “Merindu Mantan” akan sama lucu dan menghibur layaknya meme-meme tentang mantan, buang jauh pikiran tersebut karena kalian salah besar.

“Merindu Mantan” berkisah tentang Asih (Aimee Saras) seorang gadis desa yang hatinya rapuh karena dikhianati oleh mantan kekasihnya, Joni (Rangga Djoned) yang divisualisasikan sebagai playboy kampung. Perlahan namun pasti, Asih menyuguhkan kegalauan yang begitu besar yang menuntunnya ke sisi gelap dan mistis dalam dirinya dan memutuskan untuk menyantet mantan kekasihnya sebagai “kenang-kenangan” perpisahan mereka.

 Adalah Andri Cung, sutradara muda dibalik film pendek “Merindu Mantan”. Setelah sukses dengan film pendek “Payung Merah” yang diganjar sebagai Best  Asian Short Film, Screen Singapore pada tahun 2010, Andri Cung kembali menggarap film pendek bergenre thriller namun kali ini ada bumbu-bumbu mistis yang sangat Indonesia sekali didalamnya. “Merindu Mantan”  dipondasi dengan skenario yang ditulis oleh Ve Handojo yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Andri Cung dalam film “Payung Merah”. Berkat pengalaman menulis skenario-skenario film yang mampu membangkitkan bulu kuduk penonton contohnya pada trilogy Kuntilanak, Ve Handojo sudah punya modal kuat dalam mengangkat salah satu “warisan budaya” di dunia mistis kedalam format film pendek. Pengalaman dan “taste” yang dimiliki oleh Andri Cung ditambah dengan skenario kuat dari Ve Handojo serta didukung dengan aspek teknis lainnya menghasilkan sebuah suguhan yang berbobot dan tentu saja sukses membuat penonton merinding ngeri dibuatnya.

Tak diragukan, dunia persantetan haruslah bangga diadaptasi dalam format film pendek sekelas “Merindu Mantan”. Dengan durasi 10 menit, “Merindu Mantan” mampu membuat atmosfer mengerikan sejak awal film bergulir. Didukung dengan skenario matang dari Ve Handojo, Andri Cung mampu memvisualisasikan “Merindu Mantan” dengan baik. Segi teknis seperti sinematografi yang menawan dan tentu saja production design yang sangat mendukung atmosfer gelap dalam film ini. Penggunaan wadrobe kebaya yang digunakan karakter Asih serta setelan norak mas Joni dan biduannya menguatkan karakter yang ada dalam “Merindu Mantan”. Acungan jempol untuk penata artistiknya karena ketepatan properti seperti seperangkat alat santet (menyan , kembang, dsb) hingga kipas jadul yang sangat mendukung setting dalam film pendek ini. Dan tentu saja, penggunaan tembang Jawa klasik pada awal film membuat merinding penonton. Walau mungkin beberapa penonton tidak mengerti artinya, namun lagu yang memiliki makna jangan pernah membanggakan keindahan diri ini mampu membuat atmosfer menjadi gelap. Bisa dikatakan penggunaan tembang Jawa ini sangat efektif dan tentu saja menambah “tekanan psikologis” untuk penonton.


Apa yang disuguhkan “Merindu Mantan” tak lepas dari performa Aimee Saras yang berperan sebagai Asih. Aimee Saras yang awalnya saya kenal dengan suara merdunya kala menyanyikan lagu “It Was June” dan penampilannya sebagai reporter bawel nan annoying di Melancholy is a Movement (2015) ternyata punya potensi besar sebagai aktris dengan kualitas yang diatas rata-rata. Terlihat bagaimana dia sukses besar memerankan seorang wanita rapuh namun psikopat. Aimee Saras mampu menggunakan potensi dalam tubuhnya untuk membentuk gesture tubuh yang pas, perlahan namun mengerikan. Tentu saja salah satu yang diingat bagaimana cara dia memegang buah pisang dan mengelus-ngelusnya, membuka, lalu menggulirkan ke tubuhnya sebelum melakukan hal mengerikan setelah. Adegan tersebut terlihat sangat seksi sekaligus mendebarkan. Tentu saja pisang tersebut merupakan semiotika dari alat kelamin mantan kekasihnya dan saat itu juga saya punya firasat buruk bahwa “Hamtaro” mantannya dalam ancaman dan firasat saya benar. Adegan ini merupakan salah satu adegan terbaik dalam film ini.

Ada dua kata yang saya sematkan usai menonton “Merindu Mantan”, ngeri dan ngilu. Ngeri tentu saja banyak sekali aspek-aspek thriller yang terdapat dalam film ini. Semua aspek mulai dari pemeran hingga aspek teknis menampilkan performa serta atmosfer yang kuat. “Merindu Mantan” sukses menyuguhkan sebuah tontonan thriller yang mendebarkan dan membuat penonton “tertekan” adalah kesuksesan dari misi film ini. Ngilu yang disuguhkan dalam film ini akan sangat terasa bagi penonton laki-laki. Walau tak diperlihatkan secara frontal, namun adegan demi adegan “penyiksaan” terhadap “hamtaro” Mas Joni cukup menekan psikologis penonton terutama kaum Adam. Setidaknya film ini meninggalkan pesan moral untuk tidak menyakiti perasaan perempuan, atau tidak “hamster”  lucu-mu dalam bahaya.

Melihat “Merindu Mantan” membuat saya semakin yakin akan potensi yang dimiliki oleh Andri Cung. Sebelumnya karya Andri Cung “Payung Merah” yang juga bergenre thriller, “Buang” dan salah satu segmen di “3Sum” yang berjudul “Rawa Kucing” juga mendapat apresiasi yang baik.Begitupula dengan karya  film panjangnya yang berjudul “The Sun, The Moon, The Hurricane” yang rilis 2014 kemarin juga menuai kritik positif. Kedepannya karya-karya dari Andri Cung akan terus dinanti dan tentu saja karyanya untuk membuat film panjang bergenre thriller yang paling dinanti dan rencana akan dibuatnya film panjang dari “Payung Merah” segera terlaksana.


“Merindu Mantan” sendiri sudah berkeliling dibeberapa festival baik dalam dan luar negeri seperti estival Film Pendek Jabodetabeka 2013, XXI Short Film Festival 2013, Europe On Screen 2012, Osian's Cinefan Film Festival ke-12, dan Thai Short Film & Video Festival 2013.

Minggu, 12 April 2015

(Review Short Film) Gundah Gundala : Komedi Satir Terhadap Eksistensi Superhero Lokal




Bila ditanya “Siapa superhero lokal yang anda kenal?” untuk mereka yang besar tahun 70 hingga 90an atau minimal seumuran saya mungkin dengan (agak) mudah menjawab Gundala Putra Petir, Gatot Kaca, atau Si Buta dari Goa Hantu. Namun bila ditanya kepada anak kecil era sekarang apakah mereka bisa menjawab? Kalaupun mereka bisa menjawab perbandingannya lebih sedikit dibanding yang tidak. Atau bahkan mereka akan menjawab Bima Satria Garuda, sosok superhero yang rajin menghiasi layar kaca tiap minggu pagi , memang diperankan oleh orang Indonesia dan settingnya juga Indonesia namun Bima Satria Garuda terlalu banyak Influence dari tokokatsu Jepang. Saat ini anak-anak jauh mengenal bahkan mengidolakan sosok superhero mancanegara layaknya  tokoh-tokoh karakter Marvel dan DC Comic yang jelas telah punya nama besar seperti  Ironman, Superman, Batman, dan konco-konconya. Jelas terjadi semacam fenomena budaya yang merisaukan karena salah satu warisan budaya lokal di “bidang” superhero mulai tergerus dan bahkan kalah jauh dengan produk import Hollywood. Kira-kira itulah yang ingin disampaikan dalam “Gundah Gundala”.

“Gundah Gundala” menyinggung keserbamungkinan apabila benar invasi oleh superhero “import” macam Ironman, menyingkirkan serta  merebut lahan pekerjaan superhero lokal. Sebuah kisah fiktif yang di angkat serealis mungkin namun dengan perspektif subyektif dan sederhana. Dikisahkan Syahdan, seorang superhero lokal yang pernah tenar di eranya bernama Gundala Putra Petir mengutarakan ke gudahannya sembari curhat colongan dengan seorang pria berambut gondrong di warung kopi mengenai dirinya yang harus menjadi pengangguran karena kalah saing dengan superhero luar negeri. Sepanjang film akan disuguhkan obrolan serta curahan hati Gundala dengan pria gondrong yang menyinggung tentang dunia superhero lokal saat ini mulai dari nasib superhero lokal pasca masuknya superhero import hingga pemerintah yang seakan “welcome” dengan superhero luar (Bisa dilihat dari wacana dikoran bahwa Iron Man akan dinaturalisasi).

Duduk sebagai sutradara sekaligus otak dibalik “Gundah Gundala”, Wimar Hendarto dengan cermat mengangkat nasib superhero lokal dengan simple,menghibur, namun sangat menyentil. Dengan durasi 8 menit, “Gundah Gundala” tak perlu efek gila-gilaan atau budget super untuk menjadikannya sebagai film superhero yang berkesan. Kepedulian terhadap budaya lokal yang mulai tergerus oleh budaya asing dengan kemungkinan-kemungkinan fiktif yang ditampilkan seperti nasib para superhero lokal sebagai contoh Aquanus yang menjadi Wiraswasta musiman atau Godam si manusia besi yang menjadi tukang tambal ban. Menggelitik namun sarat kritik dan tentu saja menampar realita. Dengan dialog yang renyah, mengalir, serta lucu, “Gundah Gundala” mencoba membuka mata penonton dengan cara yang menghibur namun miris hingga akhirnya membuat penonton peduli terhadap eksistensi warisan budaya lokal dibidang superhero.

Tehnik yang digunakan dalam penggarapan “Gundah Gundala”pun dapat dibilang sederhana. Mayoritas film mengandalkan dialog-dialog bernada guyon yang cerdas namun menyindir dari kedua pemeran utamanya. Penampilannya tak neko-neko, sederhana khas obrolan di warung kopi. Visualisasinya pun biasa saja, tak ada colour grading yang bermaksud membuat film ini lebih “Artsy”, eksplorasi pengambilan gambar yang khas film pendek biasanya atau tidak ada pula efek efek gila-gilaan hingga sampai penggunaan CGI layaknya mayoritas film superhero. Semua sederhana namun tepat sasaran. Makna yang disampaikan dalam film ini kena ke penonton. Ringan, sederhana, menghibur, namun mendalam pantas disematkan ke “Gundah Gundala”.



Bila disangkutpautkan antara superhero lokal dengan indutri perfilman nasional, bisa dikatakan jumlah film bertema superhero di perfilman Indonesia dalam kurun waktu tahun 90an hingga sekarang jumlahnya sangat sangat sangat tidak sebanding dengan film superhero yang masuk kesini bahkan jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Pada tahun 70-80an, genre superhero lokal mampu menelurkan beberapa karya, sebut saja “Rama Superman Indonesia” karya Frans Totok Ars pada tahun 1974 serta  “Gundala Putra Petir” besutan Lilik Sudjio pada tahun 1981. Pada awal tahun 2015, “Garuda Superhero” muncul sebagai superhero lokal baru dengan menggunakan format CGI dalam penyuguhannya. Terlepas dari beberapa kritik diantaranya cerita yang terlalu banyak influence dari superhero luar, karakter superhero yang kurang berkesan dan terasa mirip dengan Batman dicampur dengan tokokatsu Jepang hingga penggunaan CGI yang setengah hati, “Garuda” berani mengangkat kembali genre superhero dalam negeri. Namun kembali lagi, jumlah film superhero amatlah sedikit bahkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan Negeri tetangga, Malaysia yang jumlah film superhero-nya lebih banyak bahkan ada yang menjadi franchaise salah satunya Cicak Man. Kondisi ini tentu saja harus disadari oleh sineas film Indonesia untuk ambil andil dalam menjaga eksistensi film superhero Indonesia mengingat masih banyak superhero lokal yang belum terjamah dan butuh “uluran tangan” para filmaker Indonesia.

Tak dipungkiri, produser film lokal rada enggan untuk menggarap film superhero lokal. Perlu diakui bahwa film superhero punya standar sendiri agar bisa menempati ruang di hati penontonnya. Film superhero modern ini haruslah mempunyai cerita yang menarik, karakter yang mudah disukai, dan tentu saja sokongan dana besar untuk mewujudkan hal-hal gila didunia superhero dengan special effect canggih yang tentu saja tidak murah. Untuk hal yang terakhir ini bisa dikatakan sangat sulit untuk kondisi perfilman Nasional. Alasan akan sulit balik modal karena kondisi penonton film akan minat terhadap film lokal dan alasan lainnya tak dipungkiri menjadi bahan pertimbangan produser serta investor film untuk menggarap film superhero lokal. Ditengah kondisi seperti ini, secercah harapan muncul ketika “Gundala Putra Petir” direncanakan akan diproduksi kembali untuk layar lebar dengan Hanung Bramantyo yang duduk dikursi sutradara dan direncanakan rilis 2016 nanti. Semoga hal tersebut mampu membangkitkan film-film bertemakan superhero di perfilman Nasional.

Dibalik penyajian “Gundah Gundala” yang penuh guyonan nan menghibur serta ilustrasi menarik mengenai sisi lain dampak invasi superhero asing terhadap superhero lokal, ada makna serta harapan yang secara gamblang ingin disampaikan. “Gundah Gundala” mengajak penonton untuk lebih sadar akan potensi warisan budaya bernama superhero lokal dan membantu eksistensi mereka. Tak dipungkiri bahwa superhero lokalpun tak kalah menarik dan keren bila digarap dengan tepat. Perlu perhatian lebih dari setiap lapisan masyarakat mulai dari pemerintah, orang-orang di dunia kreatif, filmaker hingga masyarakat umum untuk menghidupkan kembali gairah dan membangkitkan para manusia super untuk hidup lagi dan menunjukkan kemampuan mereka di ranah superhero. Tentu saja kita mendambakan Godam atau Gatot Kaca adu kuat secara sengit dengan Superman merebut hati penggemar superhero minimal di negeri sendiri. Atau pembuktian bahwa “Petir” Gundala lebih mengkilat dibanding Thor bagi penonton film Indonesia. Semoga saja.

Selasa, 03 Maret 2015

Review Short Film "Power/ Ranger" : Sebuah Tribute Kelam Jagoan Idola Anak 90'an



Bagi mereka yang besar tahun 90’an pasti pernah mengenal atau bahkan mengidolakan group hero (bukan group idol) bernama Power Ranger. Bahkan saat kecil kita (terutama saya) sesekali terlibat pertengkaran kecil sesama teman sebaya dikarenakan hal yang sepele, berebut untuk jadi Power Ranger merah. Power Ranger digambarkan sekumpulan remaja terpilih yang menggunakan kostum keren dengan warna-warna yang berbeda (Biasanya merah, biru, hijau, kuning, dan pink) dilengkapi dengan senjata yang super keren dan memiliki masing-masing robot atau kendaraan raksasa yang nantinya bisa bergabung menjadi satu untuk melawan monster yang biasanya menggunakan jurus atau ramuan di ambang-ambang kekalahannya untuk menjadi raksasa. Power Ranger pun banyak serinay mulai dari Power Ranger Mighty Morphin, Power Ranger in Space, Power Ranger SPD, dan sebagainya. Di Indonesia, anak-anak penggemar Power Ranger disuguhkan kisah-kisah jagoan mereka setiap minggu pagi di salah satu TV swasta, namun kini Power Ranger sudah lama tak muncul di layar TV digantikan acara musik lalalayeyeye atau FTV cinta-cintaan dengan judul aneh seperti kepincut cinta supir UFO atau Cintaku di kandang Godzilla.

Seperti mengobati kerinduan, film pendek bertajuk Power/Ranger muncul di Internet melalui Youtube dan Vimeo. Adalah Joseph Khan, seorang videographer yang sering menggarap video klip dari artis ternama seperti Taylor Swift, Britney Spears, dan 50 Cent  yang menjadi otak dalam penggarapan film pendek tribute untuk Power Ranger bersama kawannya yang berlaku sebagai produser, Adi Shankar. Film pendek yang rilis pertama kali tanggal 23 Februari ini telah ditonton lebih dari 12 juta penonton di Youtube yang merupakan bukti jika Power Ranger masih sangat dirindukan oleh penggemarnya, apalagi yang sudah tidak sabar menunggu Power Ranger the Movie yang rencananya akan rilis tahun 2016.



Power/Ranger tak seperti seri-seri Power Ranger yang cocok untuk anak-anak. Joseph Khan membawa film pendek ini kedalam penceritaan yang lebih kelam dan dewasa disertai beberapa adegan kekerasan dan nude yang tidak cocok untuk anak-anak. Film berdurasi sekitar 15 menit ini, diawali dengan adegan peperangan antara Power Ranger dengan musuhnya yang terlihat seperti megazord atau Alien. Peperangan ini terlihat habis-habisan terlihat dari topeng Ranger merah yang sudah hancur dan tergeletak ditanah. Cerita berlanjut jauh setelah peperangan tersebut dan para Ranger beranjak dari remaja menjadi dewasa. Terlihat sang Ranger Pink, Kimberly sedang diintrogasi oleh Rocky, Ranger merah yang menggantikan posisi Jason. Rocky yang kini ada dipihak alien serta salah satu kakinya harus digantikan dengan kaki robot ini menanyakan keberadaan Tommy, Ranger hijau kepada Kimberly. Setelahnya penonton disuguhkan kehidupan pribadi para Ranger serta rentetan kematian misterius yang menimpa mereka. Seperti ada yang memburu para jagoan kita ini.

Perlu diingat, Power/Ranger adalah film pendek Fan Made hasil ciptaan Joseph Khan yang didasari dari imajinasi penciptanya. Mengingat film pendek ini sebuah tribute buatan fans, jadi sah-sah saja apabila terasa melenceng dari originalnya dan dibuat lebih kelam serta menimbulkan pro dan kontra, senang tidak senang bagi penonton terlebih bagi penggemar berat Power Ranger. Joseph Khan menyuguhkan sebuah kisah mengenai kemana dan bagaimana pahlawan kita setelah cukup lama menghilang. Bagaimana para Ranger saat dewasa didunia yang dibuat oleh Joseph Khan. Sah-sah saja apabila Jason sang Ranger merah menikah dengan Kimberly si Ranger Pink lalu tewas dibunuh didalam mobil 8 jam setelah menikah. Kisah ini adalah versi Joseph Khan sebagai creator dibalik Power/Ranger.

Joseph Khan menyuguhkan visual yang sangat cantik disertai efek yang sangat memanjakan mata. Digarap dengan budget yang tak besar tak membuat film pendek ini terasa murahan. Efek yang ditampilkan tak kalah dengan film-film superhero layar lebar seperti film-film keluaran Marvel Studio. Bahkan film pendek ini bisa dijadikan standar untuk film layar lebar official dari Power Ranger pada tahun 2016 nanti baik dari segi efek maupun penceritaan. Power/Ranger disuguhkan dengan sisi  dark dalam penceritaan didukung visual yang kelam dan alur Thriller yang cukup mencekam serta menimbulkan tanda tanya besar apa yang sebenarnya terjadi didunia Power Ranger ini, dan tentu saja ada twist yang cukup memorable bagi kalangan penonton seri Power Ranger terdahulu.


Film pendek Power/Ranger pun tak lolos dari pro kontra. Saban Entertaiment yang merupakan pemegang lisensi dari Power Ranger murka terhadap film pendek besutan Joseph dan Adi ini hingga mengancam untuk memblokir film pendek ini di Youtube dan Vimeo. Ketidaksukaan juga keluar dari mulut Jason David Frank, pemeran Ranger hijau di seri Power Ranger dikarenakan Power/Ranger mengandung kekerasan, kata-kata kotor, serta obat-obatan yang tak layak untuk anak-anak. Terlepas dari itu semua, kita masih patut mengapresiasikan apa yang telah dibuat oleh Joseph dan teman-temannya sebagai bukti kecintaannya terhadap Power Ranger. Joseph menganggap ini adalah salah satu bentuk kebebasan berkarya dan tidak mencopot satu materipun milik Saban Entertaiment. Kembali lagi Fan made itu sah sah saja sebagai bentuk kecintaan terhadap suatu hal namun memang harus dipertanggungjawabkan semua yang terkandung didalam karya fan made yang dibuatnya.